STRUKTUR EKSTERNAL/MORFOLOGIMorfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah, leher,

STRUKTUR EKSTERNAL/MORFOLOGI

Morfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah, leher, tubuh, dan ekor, angggota tubuh berukuran pendek dengan sejumlah jari yang pada bagian ujungnya dilengkapi cakar dan begitupun ada juga sebagaian subordo yang lain yang tidak memiliki jari. Mulutnya yang panjang dilengkapi dengan gigi. Buaya misalnya di dekat ujung moncong terdapat dua lubang hidung .Mata berukuran besar dan terletak lateral, dengan kelopak atas dan bawah, serta membrane nictatin transparan yang dapat bergerak di bawah kelopak mata, telinga berukuran kecil terletak dibelakang mata. Anus terletak longitudinal dibelakang pangkal kaki belakang.

A.    KARAKTERISTIK REPTILIA

Reptilia (dalam bahasa latin, reptil = melata) memiliki kulit bersisik yang terbuat dari zat tanduk (keratin). Sisik berfungsi mencegah kekeringan. Ciri lain yang dimiliki oleh sebagian besar reptil adalah anggota tubuh berjari lima, bernapas dengan paru-paru, jantung beruang tiga atau empat, menggunakan energi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya sehingga tergolong hewan eksoterm, fertilisasi secara internal, menghasilkan telur sehingga tergolong ovipar dengan telur amniotik bercangkang.

Secara umum reptilia memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)      Tubuh ditutupi kulit kering bertanduk (tidak licin), biasanya dilengkapi sisik atau kuku, dan kelenjar dipermuakaan hanya sedikit.

b)      Memiliki dua pasang anggota badan, masing-masing dengan lima jari yang pada bagian ujungnya terdapat cakar dan dapat digunakan untuk berlari, merayap atau memanjat. Anggota badan menyerupai dayung pada penyu, memendek pada kadal, dan tidak ada anggota badan pada beberapa jenis kadal dan semua jenis ular.

c)      Kerangka terdiri dari tulang keras, tengkorak dilengkapi rongga oksipital

d)     Jantung terdiri dari empat ruang yang belum terpisah sempurna, dua serambi dan vertikel yang sebagian saling terpisah, satu pasang berkas aorta, sel darah merah oval bikonkaf dengan inti.

e)      Resppirasi dengan paru-paru, pada kura-kura air dilengkapi dengan respirasi kloaka.

f)       Terdapat 12 pasang saraf cranial.

g)      Suhu tubuh berubah-ubah bergantung suhu lingkungan (poikilothermis).

h)      Fertilisasi internal, menggunakan organ kopulasi, telurnya besar mengandung kuning telur yang terbungkus cangkang licin atau berkulit, biasanya telur ditetaskan tetapi pada beberapa jenis ular dan kadal embrio berkembang didalam tubuh betina.

Hewan Reptilia lebih maju dibanding amphibi karena memiliki diantaranya:

a)      Penutup tubuh yang kering dan bersisik sebagai adaptasi terhadap kehidupan di darat.

b)      Anggota tubuh memungkinkan hewan untuk berlari.

c)      Pemisahan darah bersih dan kotor di jantung.

d)     Skeleton terdiri dari tulang sejati.

e)      Telur dilengkapi dengan membrane dan cangkang sebagai pelindung embrio sehingga memungkinkan untuk berkembang di darat.

B.     KARAKTERISTIK KHUSUS

1.      Warna Tubuh

Ada bagian dermis berupa kromotofora yang bertanggung jawab terhadap warna tubuh.Oleh karena adanya konsentrasi dan dispersi granula-granula pigmen dalam kromatofora ini menjadikan reptil mampu melakukan mimikri yaitu mengganti warna dalam menanggapi rangsang dari lingkungan.Contohnya adalah bunglon.

Warna juga menjadi penting dalam termoregulasi, yaitu akan menjadi perubahan konsentrasi granula-granula pigmen dalam kromatofora akibat respon temperatur tinggi dengan mengurangi pewarnaan sehingga warna menjadi lebih terang., sementara itu temepratur rendah menyebabkan pewarnaan gelap. Warna juga disiapkan untuk melindungi organ-organ vital dari bahaya radiasi matahari.Kadangkala pigmentasi berfungsi untuk perisai organ intermuskular bahkan untuk perlindungan jaringan peritoneum.

2.      Sisik Epidermal

Tubuh reptil dibungkus oleh sisik kering sebagai pelindung tubuh seperti halnya sisik ikan.Sisik-sisik ini terbagi dalam 2 kategori, yaitu epidermal dan dermal.Tipe sisik reptil adalah superfisial dan umumnya berganti secara berkala.Sisik dermal adalah lempengan tulang yang tertanam permanen pada kulit dan bertahan selama hidupnya.

Reptil memiliki sisik epidermal yang terlihat amat nyata pada kadal dan ular. Sisik epidermal secara terus menerus diproduksi oleh karena pertumbuhan dari lapisan stratum germinativun epidermis dan umunya berlipat sehingga menjadi tumpang tindih satu sama lain. Ketika lapisan sisik epidermal tumbuh secara sempurna atau secara utuh, akhirnya menjadi terpisah dari stratum germinativum dan tampak sebagai benda mati. Ular dan kadal sisik-sisiknya berganti yang disebut dengan proses ekdisis. Sebelum berlangsungnya ekdisis, sisik-sisik baru yang akan menggantikan sisik yang sudah tua sudah terbentuk. Kebanyakan ular berganti kulit secara sekaligus.Epidermal yang lepas pertama pada daerah kepala termasuk kulit di dorsal mata, ular pada akhirnya beringsut ke luar dari penutup lama. Pergantian kulit pada ular dihitung mulai saat pertama seekor ular  berganti kuloit adalah bergantung pada tingkat pertumbuhannya. Jenis ular yang cepat pertumbuhannya biasanya berganti kulit setiap dua bulan.

Gambar: Bagian-bagian kulit reptil yang memperlihatkan sisik epidermis (Hickman, 2001: 564)

            Beberapa ular berbisa seperti pada Crotalus cerates dan Cerates cerates memiliki struktur seperti tanduk di atas matanya yang merupakan modifikasi dari sisik-sisik. Tanduk ini akan melipat ke bawah menutupi mata ketika kepala ular ditekan. Tanduk ini mungkin bermanfaat untuk melindungi mata ketika ular bergerak melalui bebatuan, akar-akar, belukar atau apa saja yang dapat menyebabkan luka. Lapisan kulit epidermal pada kadal tidak berganti secara keseluruhan dalam waktu relatif pendek

Karapaks dan plastron adalah tempurung dorsal dan ventral yang melindungi tubuh kura-kura dan penyu.Strukturnya tersusun sebagian besar oleh tulang dari lempengan kulit dermal dan bagian luar yang terbungkus sisik epidermal bertanduk yang tidak menyerupai sisik epidermal pada ular dan kadal.Sisik-sisik ini tidak berganti secara berkala, meskipun sisik yang lebih tua yang merupakan lapisan terluar mengelupas sebagai akibat dari ekspansi laisan stratum germinativum.Sisik baru berukuran lebih besar daripada sisik yang terdahulu yang menutupinya.Sebagai konsekuensi, ada lempengan epidermal yang ebih besa membentuk cincin atau lingkaran pertumbuhan sebagai akumulasi lapisan-lapisan sisik bertanduk.Beberapa kura-kura tidak memiliki sisik dan mempunyai sebuah kulit keras sebagai pengganti.Tubuh aligator dan sejenisnya juga terbungkus sisik epidermal yang tidak secara bersamaan berganti tetapi berangsur-angsur mengelupas dan digantikan sisik baru.

Sisik epidermal reptil menunjukkan lebih banyak keragaman bentuk dan struktur, terutama pada ular dan kadal.Sisik tersebut mugkin tersusun secara longitudinal, diagonal atau transversal (baris-baris melintang). Sisik pada kepala umumnya berbeda dalam penampilan dari sisik bagian tubuh lain dan diberi nama sesuai dengan lokasinya. Sisik di sepanjang bagia bibir atas disebut sisik-sisik labial atas.,sisik yang melingkari mata adalah sisik okular, yang diantara kedua mata adalah sisik interokular. Perbedaan dalam ukuran, bentuk dan jumlah sisik ini memberikan ciri khusus dan penting untuk klasifikasi.

Sisik ular biasanya sikloid atau berbentuk segi empat.Sisik kadal mungkin dikelompokkan ke dalam sisik granular, sikloid, quadrangular atau mucromate, dan sisik mungkin halus atau kasar.Sisik bagian tubuh tertentu bisa termodifikasi hingga menjadi panjang seperti duri yang ditemukan pada iguana.

Sisik pada bagian ventral tubuh ukar umumnya lebih besar umumnya lebih besar, pitamoris melintang disebut scute yang berfungsi untuk memperluas lebar tubuh.Keberadaan scute di bagian bawah permukaan tubuh biasanya digunakan sebagai ciri dasar untuk membedakan ular dari kadal.

3.      Kelenjar Kulit

Karena sisik epidermal kering maka reptil pada dasarnya hanya memiliki sedikit kelenjar kulit.Kelenjar mukus dan kelenjar di kloaka pada buaya berfungsi selama masa bercumbu.Beberapa kadal juga memiliki kelenjar endokrin di dekat kloaka di masa kawin.Kadal ini memiliki lubang-lubang disebut sebagai lubang preanal atau lubang femoral, umumnya pada betina lebih kecil atau ditemukan hanya pada pejantan.Kelenjar ini menjadi sangat aktif pada musim kawin.

Tipe kelenjar holokrin telah ditemukan disebut kelenjar keturunan atau generation gland.Perubahan sekresi dari kelenjar-kelenjar ini tampak dihubungkan dengan pertumbuhan sisik pada kulit.

4.    Gigi

            Gigi sama sekali tidak ada pada kura-kura dan penyu, tetapi diganti dengan lapisan tanduk baik di rahang atas maupun bawah seperti layaknya paruh burung. Reptilia kelompok lain umumnya mempunyai gigi dan berkembang dengan baik. Gigi-gigi Crocodilia agak seragam, berbentuk kerucut, kelengakapan giginya mengarah pada gigi tipe thedocont.

Sebagian besar kadal memiliki gigi seragam atau homodont.Ada (sedikit) reptilia yang memiliki gigi seri, taring dan geraham, sehingga pertumbuhan gigi ini mengarah pada heterodont.Sebagian kecil kadal memiliki gigi yang tumbuh pada langit-langit mulut, tetapi umumnya melekat pada rahang.Ada tipe gigi yang hanya melekat pada rahang sehingga tidak terletak pada lubang rahang, disebut tipe acrodont.Tipe gigi pleurodont yaitu gigi berada dan melekat pada sisi dalam rahang.Gigi bawah pada genus Holoderma (kadal berbisa) adalah pleurodont.Racun yang disekresikan oleh kelenjar labial pada rahang bawah Holoderma tidak melewati lubang taring tetapi mengalir melalui luka akibat tusukan gigi.

Ular umumnya memiliki gigi tipe pleurodont yang tersusun pada jajaran di rahang atas dan bawah.Beberapa ular berbisa memiliki gigi berlekuk yang disebut gigi opistoglifi. Ular berbisa kuat, umumnya memiliki sepasang taring berlubang terletak pada bagian anterior rahang atas, bentuk taring seperti jarum hipodermik dan dasar taring berhubungan dengan kantong kelenjar bisa. Kontraksi otot di sekitar kelenjar bisa pada saat ular menyerang, bertanggung jawab untuk menyuntikkan bisa melewati taring ke korban. Taring, seperti juga gigi yang lain akan diganti bila tanggal. Taring ular berbisa opistoglifi adalah gigi bisa yang terletak pada rahang atas bagian posterior sedangkan gigi bisa yang terletak pada rahang atas bagian anterior dan dapat dilipat (bisa digerakkan) karena ada engsel disebut gigi solenoglifi.Gigi bisa pada ular kobra dan ular mamaba taringnya terletak pada rahang atas bagian anterior dan gigi bisa ini tidak bisa digerakkan yang disebut dengan tipe gigi taring proteroglifi.

5.    Alat Gerak (appendages) dan Lokomosi

            Kadal dapat berlari dengan menggunakan 4 tungkai tetapi ada yang hanya menggunakan 2 tungkai belakang pada saat berlari.Ada kadal yang mampu memanjat permukaan vertikal, misalnya pada kelompok tokek karena ada alat tambahan berupa kait.beberapa kadal dari genus Draco mampu meluncur di udara karena memiliki kulit tambahan seperti jaring yang lebar disetiap sisi tubuh tetapi tidak memiliki tungkai. Dua pasang tungkai pada kadal tidak selalu pentadaktil, terkadang jari-jari pada satu atau kedua pasang tungkai menghilang. Kadal tak bertungkai dikelompokkan dalam famili Ellidae atau famili Anguidae sehingga Nampak seperti ular.Buaya mampu berjalan di atas tanah sebaik berenang di air. Mungkin jaringan selaput antar jari tersebut bervariasi, akan tetapi kecepatan di air disempurnakan oleh gerakan tubuh mengombak ke samping.

Reptil yang teradaptasi sangat baik untuk kehidupan akuatik adalah kura-kura laut.Tungkainya termodifikasi menjadi sirip, kuku mereduksi atau tidak ada.Kura-kura tanah memiliki tungkai yang kuat dan mampu mengangkat tubuh untuk bergerak.Kura-kura laut dan air tawar dapat merubah berat badannya secara spesifik sehingga mampu bertahan dalam air pada kedalaman tertentu, dapat mengambang di permukaan atau bergerak di dasar kolam.Kemungkinan ini dicapai dengan merubah volume udara di paru-paru dengan menambah atau mengurangi jumlah air yang disimpan di kloaka.

Gerakan melata pada ular adalah hal yang menarik. Ternyata ular melata dengan cara berbeda. Ada 4 tipe gerakan maju, yaitu berombak horizontal, rectilinear,concertinadan sidewinder. Rattlesnake dan ular berbisa memiliki lubang sensor khusus di setiap sisi kepala. Keberadaan lubang ini telah dipelajari oleh Noble dan Schmidt (1937), bahwa walaupun semua organ utama dirusak atau diblok ternyata ular mampu menemukan atau mengetahui lokasi dan mematuk mangsanya sebab objek memiliki suhu tubuh lebih tinggi atau lebih rendah dari lingkungan sekitar. Lubang-lubang sensor ini bersifat saraf opthithalmic cabang dari saraf cranial ke V. Organ sensor di kepala ular fiton Australia (Morelia spilotes) mampu menerima sinar infra merah.

Penulis:

biologimania, traveller, foodmania.. this is me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s