⚡Presentation ‘Kingdom Animalia Phylum Cnidaria (Coelenterata) http://videos.howstuffworks.com/hsw/11758-the-world-of-animals- phylum-cnidaria-video.htm.’

Kingdom Animalia Phylum Cnidaria (Coelenterata) http://videos.howstuffworks.com/hsw/11758-the-world-of-animals- phylum-cnidaria-video.htm.

Sumber: ⚡Presentation ‘Kingdom Animalia Phylum Cnidaria (Coelenterata) http://videos.howstuffworks.com/hsw/11758-the-world-of-animals- phylum-cnidaria-video.htm.’

A.    KLASIFIKASI REPTILIA

  1. A.    KLASIFIKASI REPTILIA

Klasifikasi reptil, pada awalnya didasarkan atas arsitektur tengkoraknya. Formulasi ini dikemukakan oleh Osborn tahun 1903, yaitu ditunjukkan dengan adanya ciri-ciri tengkorak: anapsid, diapsid, synapsid (parapsid). Sekarang klasifikasi reptil tersebut telah banyak berubah, dan dibagi menjadi 4 ordo: Testudinata, Rhynchocephalia, Squamata dan Crocodilia.

  1. 1.      Ordo Testudinata
  2. a.      Subordo Cryptodira

Subordo Cryptodira merupakan kura-kura darat, semi akuatik dan ada pula yang akuatik. Keistimewaan dari anggota subordo ini adalah kepalanya dapat ditarik ke dalam cangkang membentuk huruf S, mempunyai 12 sisik plastral, dan 9-8 tulang plastral. Pada sebangsa kura-kura, jumlah sisik, keping maupun susunan tulang sangat penting artinya terutama dalam mengidentifikasi jenisnya.

Karapaks Subordo Cryptodira bermacam-macam, mulai dari tipis hingga tebal, dengan warna dan bentuk yang bermacam-macam pula (cembung, kotak, bulat, tebal) sesuai dengan lingkungan hidup masing-masing jenisnya. Subordo Cryptodira dibagi dalam 11 famili diantaranya :

1) Famili Chelydridae

a)      Superfamilia Testudinoidea

a.1) Famili Geoemydidae

Fosilnya anggota famili ini banyak ditemukan pada Jaman Krestasea Atas di Eropa. Dulunya Geoemydidae atau lebih dikenal sebagai Bataguridae dianggap sebagai satu suku dengan suku kura–kura air tawar Amerika Selatan. Anggota yang terbesar, yaitu Bajuku atau Biuku, yang berada di Sumatera dan Kalimantan dapat mencapai 1170 mm. Adapun jenis-jenis anggota famili ini yang ada di indonesia antara lain Batagur baska, Callagur borneoensis, Geoemyda japonica, Malayemys subtrijuga, Notochelys platinota, Orlitia borneensis, Siebenrockiella crassicollis, Coura amboinensis, Cyclemys dentata dan Heosemys spinosa.

Amyda cartilaginea

Callagur borneoensis

Batagur baska

Geoemyda japonica

a.2) Famili Testudinidae

Famili ini memiliki banyak anggota, yang paling terkenal terdapat di Kepulauan Galapagos dan Kepulauan Secheyles. Pada kedua kepulauan tersebut mereka dikenal sebagai kura–kura purba dan kura-kura raksasa. Di Indonesia fosilnya hewan ini dijumpai di Jawa, Flores, Timor dan Sulawesi. Kura–kura Kuning di Sulawesi dan Baning yang terdapat di hutan–hutan Sumatera dan Kalimantan merupakan kerabat kedua anggota famili di Kepulauan Galapagos dan Kepulauan Secheyles yang masih hidup di Indonesia. Di Asia Tenggara terdapat tiga genus yaitu Indotestudo dan Manouria yang masih hidup dan diwakili oleh satu jenis saja di Indonesia, dan Geochelone yang ditemui dalam bentuk fosil di Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Contohnya :Geochelone gigantean, Testudo hermanii, Testudo elephantopus

.

Klasifikasi Kura kura Aldabra (Geochelone gigantea)

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Class        : Reptilia

Ordo        : Testudines

Subordo   : Cryptodira

Famili       : Testudinidae

Genus      : Geochelone

Species     : Geochelone gigantean

a.3)  Famili Emydidae

Sebagian besar anggota famili ini merupakan kura-kura semiakuatik. Ada beberapa jenis yang hidup di air laut ( Malaclemys terrapin), ada yang hidup di darat (beberapa spesies Terrapene) dan ada yang sepenuhnya akuatik( Terrapene coabuila). Sebagaian besar merupakan omnivora akan tetapi terdapat beberapa jenis yang murni karnivora ( misalnya genus Emydoidea dan Deirochelys). Anggota famili ini mempunyai cangkang yang keras. Terdiri dari 12 genera dan kurang lebih 39 spesies. Di indonesia, beberapa jenis kura-kura anggota famili ini merupakan hewan import yang diperdagangkan bebas, misalnya Trachemys scripta( kura-kura brazil).

Trachemys scripta

 

 

b) Superfamilia Trionychoidea

– Famili Carettochelydae

– Famili Trionychidae

– Famili Kinosternidae

– Famili Dermatemydidae

Kura-kura ini memiliki penyebaran paling luas di dunia. Terdapat diseluruh benua, kecuali Australia yang hanya berupa fosil saja. Tiap genus dari suku ini hanya memiliki satu sampai tiga anggota saja yang dapat dibedakan dengan mudah dari perisainya yang berasal dari tulang rawan dan ekornya yang agak panjang. Pada beberapa jenis, kaki belakangnya dapat disembunyikan dalam suatu katub perisai. Lehernya relatif panjang, sehingga kepalanya hampir dapat mencapai bagian belakang tubuhnya. Lubang hidungnya terletak pada ujung moncong yang kecil dan pendek. Ukurannya dapat mencapai panjang satu meter, dengan berat satu kuintal. Adapun beberapa jenis anggota super famili ini yang berada di indonesia adalah Amyda cartilaginea (bulus), Dogania subplana( labi-labi hutan), Pelodiscus sp., Chitra chitra (manlai/labi-labi bintang), Pelochelys bibroni ( labi-labi irian), Pelochelys cantori ( antipa/labi-labi raksasa), dan Charettochelys insculpta ( moncong babi).

Pelochelys bibroni

Pelochelys cantori

c)      Superfamilia Chelonioidea

c.1)  Famili Cheloniidae

Famili ini dapat dibedakan dengan famili lainnya dengan dua ciri khas yakni adanya keping inframarginal yang menghubungkan perisai perut dan perisai punggung dan juga kaki yang berbentuk dayung.Kaki  depannya umumnya hanya mempunyai satu cakar, bila ada cakar kedua biasanya berukuran sangat kecil. Hewan jantan biasanya memiliki cakar depan dan ekor yang lebih panjang. Ia mempunyai lubang hidung yang terletak agak dekat permukaan atas tengkorak untuk memudahkan mengambil udara untuk bernafas.

Semua anggota Famili Cheloniidae hidup di laut tropik, subtopik, terkadang ada di daerah dengan iklim temperate. Penyu ini tersebar luas di samudra-samudra di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota famili ini, enam diantaraya ditemukan di Indonesia. Adapun contoh spesies anggota famili ini antara lain Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik ( Eretmochelys imbricata), Penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Perkawinan terjadi di laut, karenanya hewan yang jantan tidak pernah naik ke daratan, hanya yang betina saja yang naik untuk bertelur.

Chelonia mydas

Caretta caretta

Eretmochelys imbricata

Lepidochelys olivacea

c.2)  Famili Dermochelyidae

Satu-satunya anggota dari famili ini yang masih tersisa adalah Penyu Belimbing. Penyu ini mempunyai persebaran yang luas, hingga ke daerah beriklim dingin. Ciri–ciri penyu ini adalah warna tubuh hitam sampai abu–abu kehijauan, kaki tidak bercakar dan perisai ditutupi oleh kulit sebanyak tujuh lipatan memanjang dan berbintik putih tanpa keping yang jelas. Penyu ini dapat dengan mudah dibedakan dengan ciri perisainya yang dibentuk oleh tulang–tulang kecil yang tertanam dibawah kulit yang tersusun dalam tujuh baris yang membentuk lunas pada perisai punggungnya. Perisai perutnya pun tersusun sedemikian rupa sehingga terdapat dua baris yang rapat bersebelahan. Anakannya berwarna hitam dengan bagian bawahnya berwarna coklat. Contoh spesies anggota famili ini adalah Dermochelys coriacea

Dermochelys coriacea

  1. b.      Subordo Pleurodira

Sub-ordo Pleurodira merupakan kura-kura akuatik dengan ciri memiliki leher yang panjang. Kepalanya dapat dilipat ke samping badan namun tidak dapat ditarik ke dalam tempurungnya. Karapaks biasanya berbentuk oval dan berwarna gelap, memiliki 13 sisik plastral dan 9-11 tulang plastral. Pelvisnya bersatu dengan tempurung/cangkang.Merupakan hewan karnivora, pemakan siput, kura-kura, dan amphibi.

Subordo Pleurodira dibagi menjadi 3 Famili yaitu:

– Famili Chelidae

– Famili Pelomedusidae

– Famili Podocnemididae

Contoh dari Subordo Pleurodira antara lain :Chelodina oblonga, Eydura subglobosa (Famili Chelidae), dan Pelomedusa subrufa (Famili Pelomedusidae)

1)      Famili Chelidae

Famili ini terdiri dari kurang lebih 17 genus dan 54 spesies. Famili ini dapat dikenali dari lehernya yang tidak dapat dimasukkan ke dalam perisainya, dan bagian perisainya mempunyai keping intergular. Famili ini dianggap lebih primitif daripada kura–kura yang dapat menyembunyikan lehernya dalam perisai. Diperkirakan nenek moyangnya telah ada sejak 223 juta tahun yang lalu, berdasarkan fosil–fosil dari Genus Chelodina, Elseya, dan Emydura. Genus Chelodina dikenali dari kaki depan dengan empat kuku, keping intergular yang tidak berhubungan dengan tepi perisai yang relatif panjang. Genus ini dibagi menjadi dua, yakni kura–kura dengan leher panjang dan kepala yang juga relatif panjang dan kelompok yang kedua adalah kura–kura dengan panjang leher sedang dan kepala relatif pendek dan lebih besar.

  1. 2.      Ordo Rhynchocephalia

Yang masih hidup sampai sekarang mempunyai bentuk serupa kadal, berkulit tanduk dan bersisik, bergranula, punggungnya berduri pendek.Tulang rahang mudah digerakkan. Contoh yang masih hidup di Australia :Sphenodon punctatum (Tuatara).

Klasifikasi Sphenodon punctatum(Jasin. 1984 : 282)

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Kelas        : Reptilia

Ordo        : Rhynchocepholia

Famili       : Rhynchocepholidae

Genus      : Sphenodon

Species     : Sphenodon punctatum

  1. 3.      Ordo Squamata

Ordo ini memiliki tubuh yang ditutupi sisik epidermis bertanduk yang secara periodik mengelupas sebagiansebagian atau keseluruhan. Osteoderm biasanya tidak ada tapi pada beberapa jenis Squamata terdapat pada kepala dan tempat lain. Kepala pada dasarnya tipe diapsid, arcade bawah tidak sempurna atau tidak ada dan arkade atas juga sering demikian.Tidak memiliki tulang kuadratojugal (penghubung tulang kuadrat dan jugal) sehingga memungkinkan terjadinya gerakan kinesis (pergerakkan tengkorak akibat posisi tulang kuadrat).Lubang hidung berpasangan.Sering memiliki mata pineal pada kelompok kadal tapi pada kelompok ular tidak ditemukan.Memiliki lubang kloaka transversal dan pada yang jantan terdapat dua hemipenis.Organ Jacobson berkembang baik dan terpisah sempurna dari rongga hidung. Ordo ini terbagi atas dua sub ordo yaitu Sauri/Lacertalia dan Serpentes/Ophidia.

  1. a.      Sub Ordo Sauria/Lacertalia

Sub ordo ini memiliki tubuh berbentuk silindris, mempunyai dua pasang extremitas. Cingulum anterior (pectoral girdle) dan cingulum posterior (pelvic girdle) tumbuh baik.Chameleo chameleon Makanannya berupa insecta atau Invertebrata lainnya, ada yang herbivore.Terdapat di daerah tropis.Dari kesemua famili anggota lacertilia, terdapat 4 famili yang ada di indonesia, yaitu Agamidae, Gekkonidae, Scincidae, Varanidae

1)      Famili Agamidae

Famili ini memiliki ciri badan pipih, tubuhnya ditutup sisik bentuk bintil atau yang tersusun seperti genting, demikian pula dengan kepalanya penuh tertutup sisik.Lidahnya pendek, tebal, sedikit berlekuk di ujung serta bervilli.Jari-jarinya kadang bergerigi atau berlunas Tipe gigi acrodont.Pada Draco volans memiliki pelebaran tulang rusuk dengan lipatan kulit. Habitatnya di pohon dan semak.

2)      Famili Scincidae

Ciri umum dari famili ini adalah badannya tertutup oleh sisik sikloid yang sama besar, demikian pula dengan kepalanya yang tertutup oleh sisik yang besar dan simetris. Lidahnya tipis dengan papilla yang berbentuk seperti belah ketupat dan tersusun seperti genting.Tipe giginya pleurodont.Matanya memiliki pupil yang membulat dengan kelopak mata yang jelas.Ekornya panjang dan rapuh. Contoh spesies famili ini adalah Mabouya multifasciata

3)      Famili Varanidae

Ciri dari famili ini adalah badannya yang besar dengan sisik yang bulat di bagian dorsalnya sedang di bagian ventral sisik melintang dan terkadang terdapat lipatan kulit di bagian leher dan badannnya.Lehernya panjang dengan kepala yang tertutup oleh sisik yang berbentuk polygonal.Lidahnya panjang bercabang dan tipe giginya pleurodont.Pupil matanya bulat dengan kelopak dan lubang telinga yang nyata.

Anggota famili ini yang terbesar adalah komodo ( Varanus komodoensis ) yang panjangnya dapat lebih dari 3 meter. Komodo persebarannya terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara. Suku varanidae terdiri dari dua kelompok yang sedikit berbeda, yaitu marga Varanus yang besar ( lebih dari 35 spesies di seluruh dunia) dan marga Lanthanous yang sejauh ini berisi spesies tunggal L. Borneensis yang berasal dari kalimantan. Marga Lanthanous ini merupakan biawak yang bertubuh kecil dan tanpa lubang telinga

Klasifikasi Varanus komodoensis

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Class        : Reptilia

Ordo        : Squamata

Sub ordo  : Lacertalia

Famili       : Varanidae

Genus      : Varanus

Spesies     : Varanus komodoensis

Ciri Morfologi Varanus komodoensis :

Panjang badannya sampai 3 mater dengan berat badannya mencapai 140 kg.Ekornya panjang, gemuk agak pipih, sedangkan kepalanya bermoncong tidak runcing. . Ekor binatang ini merupakan alat yang ampuh untuk meroboh kan mangsanya dalam sekali serangan. Lidahnya panjang, bercabang dua diujungnya dan berwarna kuning kemerah-merahan.Seluruh tubuhnya kulit kera, berwarna hitam keabu-abuan. Kulit binatang ini bercorak khusus, kecuali pada biawak yang muda, kulitnya berkembang-kembang berwarna hitam kekuning-kuningan

4)      Famili Gekkonidae

Gekkonidae banyak ditemukan di iklim yang hangat. Memiliki keunikan yang berbeda dengan famili yang lain dari vokalisasinya, ketika bersosialisasi dengan gecko yang lain. Kebanyakan gecko tidak mempunyai kelopak mata, melainkan matanya dilapisi membrane transparan yang dibersihkan dengan cara dijilat. Banyak spesies anggota gekkonidae yang memiliki jari khusus yang termodifikasi untuk memudahkannya memanjat permukaan vertikal maupun melewati langit-langit dengan mudah

Kebanyakan gecko berwarna gelap namun ada pula yang berwarna terang.Beberapa spesies dapat mengubah warna kulitnya untuk membaur dengan lingkungannya ataupun dengan temperature lingkungannya.Beberapa spesies dapat melakukan parthenogenesis dan juga beberapa spesies betina dapat berkembang biak tanpa pembuahan.

  1. Sub ordo  Serpentes/ophidae (ular)

Tubuh tidak memiliki extremitas, walaupun sisanya ditemukan pada spesies tertentu. Mandibula (rahang bawah) terikat seluruhnya dengan ligament;gigi bulat panjang. Diantara spesies yang berbisa memiliki gigi taring, taring atas berfungsi alat penyuntik bisa. Anggota sub ordo kurang lebih 2500 spesies. Contoh :Lampropeltis bovlii (ular Weling)

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Class        : Reptilia

Ordo        : Squamata

Sub ordo : Serpentes

Famili       : Pythonidae

Genus      : Python

Spesies     : Python molurus

Ciri Morfologi Python molurus:

Warnanya kuning cerah dengan sebagian warna putih di bagian bawah tubuhnya.Phyton Morulus bisa mencapai 17 sampai 18 kaki dan dapat mencapai berat lebih dari 200 pon.Memiliki mata yang sempurna yang digunakan untuk melihat mangsa.Memiliki sisik disepanjang sisi tubuhnya. Memiliki lidah yang panjang tetapi kecil digunakan sebagai indra   pembau.Umumnya mencari makan pada malam hari.

Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor. Ada sebagian famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa.

Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu :

  • Aglypha                         : tidak memiliki gigi bisa. Contohnya pada Famili Pythonidae, dan

Boidae.

  • Proteroglypha     : memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka (bagian depan).

Contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae.

  • Solenoglypha     : memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat

tidak dibutuhkan. Contohnya pada Famili Viperidae.

  • Ophistoglypha : memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya.

Contohnya pada Famili Hydrophiidae

Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya, yaitu :

  • Haemotoxin    : bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara

menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe

ini adalah: Colubridae dan Viperidae.

  • Cardiotoxin     : masih berkaitan dengan sistem peredaran darah, bisa jenis ini melambat dan akhirnya dapat berhenti. Contoh Famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik. Dalam arti, banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini.
  • Neurotoxin : bisa yang menyerang syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh famili yang memiliki bisa tipe ini.
  1. 4.      Ordo Crocodilia

Ordo crocodylia mencakup hewan reptil yang berukuran paling besar di antara reptil lain. Kulit mengandung sisik dari bahan tanduk.Di daerah punggung sisik-sisik itu tersusun teratur berderat ke arah ternversal dan mengalami penulangan membentuk perisai dermal.Sisik pada bagian dorsal berlunas, pada bagian lateral bulat dan pada bagian ventral berbentuk segi empat.Kepala berbentuk piramida, keras dan kuat, dilengkapi dengan gigi-gigi runcing bertipe gigi tecodont.Mata kecil terletak di bagian kepala yang menonjol ke dorso-lateral.Pupil vertikal dilengkapi selaput mata, tertutup oleh lipatan kulit yang membungkus tulang sehingga lubang tersebut hanya nampak seperti celah.Lubang hidung terletak pada sisi dorsal ujung moncong dan dilengkapi dengan suatu penutup dari otot yang dapat berkontraksi secara otomatis pada saat buaya menyelam.Ekor panjang dan kuat.Tungkai relatif pendek tetapi cukup kuat.Tungkai belakang lebih panjang, berjari 4 dan berselaput. Tungkai depan berjari 5 tanpa selaput.

Jantung buaya memiliki 4 ruang namun sekat antar ventrikel kanan dan kiri tidak sempurna yang menyebabkan terjadinya percampuran darah.Pada jantungnya memiliki foramen panizza. Crocodilia merupakan hewan poikilotermik sehingga kebanyakan akan berjemur di siang hari unutk menjaga suhu tubuhnya. Mereka berburu di malam hari.Crocodilian dewasa terutama yang dominan memiliki teritori tersendiri, namun pada musim kering teritori tersebut dilupakan karena daerah mereka menyempit akibat kekeringan.

a)   Famili Alligatoridae

Famili Alligatoridae memiliki ciri-ciri bentuk moncongnya yang tumpul dengan deretan gigi pada rahang bawah tepat menancap pada gigi yang terdapat pada rongga pada deretan rahang atas sehingga pada saat moncongnya mengatup hanya deretan gigi pada rahang atasnya saja yang terlihat.dapat mencapai umur maksimal hingga 75 tahun. Tahan terhadap suhu rendah.memiliki lempeng tulang pada punggung dan bagian perut bawah memiliki sisik dari bahan tanduk yang lebar.yang berjumlah lebih dari 6 sisik

Klasifikasi Alligator mississipiensis (Hickman et al, 2001)

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Class        : Reptilia

Ordo        : Crocodilia

Famili       : Alligatoridae

Genus      : Alligator

Spesies     : A. mississipiensis

b)   Famili Crocodylidae

Ciri-ciri Famili Crocodilidae adalah moncongnya meruncing dengan bentuk yang hampir segitiga dan pada saat mengatup, kedua deret giginya terlihat dengan jelas. Kedua tulang rusuk pada ruas tulang belakang pertama bagian leher terbuka lebar.Terdapat pula baris tunggal sisik balakang kepala yang melintang yang tidak lebih dari 6 buah di bagian tengkuk.

Klasifikasi Alligator mississipiensis (Hickman et al, 2001)

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Class        : Reptilia

Ordo        : Crocodilia

Famili       : Crocodylidae

Genus      : Crocodylus

Spesies     : C. noveguineae

Spesies anggota Famili Crocodilidae yang ada di Indonesia adalah :

b.1 Crocodylus noveguineae (Buaya Irian)

Spesies yang sering disebut sebagai Buaya Irian ini dibedakan dengan buaya yang lain berdasrkan ukuran sisiknya yang lebih besar, terutama sisik ventralnya. Sisik belakang kepalanya berjumlah 4-7 buah.Sisik D.C.W (Double Crest Whorl) sejumlah 17-20 pasang, sedangkan Sisik S.C.W (Single Crest Whorl) berjumlah 18-21 buah. Jumlah sisik ventral terdiri atas 23-28 baris dari depan ke belakang. Ukuran maksimum dapat mencapai 3350 mm untuk jantan dan 2650 mm untuk betina.

Pada waktu akan bertelur, betina akan membuat sarang dan bertelur pada awal musim kemarau, hal ini berlawanan dengan Crocodylus porosus. Telur – telur ini dijaga oleh induk sampai mereka dapat mencari makanan sendiri. Buaya-buaya ini menempati habitat yang sama dengan buaya air tawar di Indonesia Barat dan dijumpai sampai ke pedalaman dengan persebaran meliputi Irian sebelah utara, mulai dari daerah DAS Memberamo, sampai semenanjung selatan Papua Nugini.

b.2  Crocodylus porosus (Buaya Muara)

Buaya muara dikenal sebagai buaya terbesar di dunia dan dapat mencapai panjang tujuh meter. Buaya ini dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan sisik belakang kepalanya yang kecil ataupun tidak ada, sisik dorsalnya berlunas pendek berjumlah 16-17 baris dari depan ke belakang biasanya 6-8 baris. Tubuhnya berwarna abu-abu atau hijau tua terutama pada yang dewasa pada sedangkan yang muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam, dan pada ekornya terdapat belang hitam dari bercak- bercak berwarna hitam.

Saat bertelur, betina akan membuat sarang dari sampah tumbuhan, dan dedaunan. Buaya ini bertelur pada awal musim penghujan. Telur – telur ini akan terus dijaga oleh induk sampai menetas dan mereka dapat mencari makanan sendiri.

Buaya jenis ini menempati habitat muara sungai. Kadang dijumpai di laut lepas.Makanan utamanya adalah ikan walaupun sering menyerang manusia dan babi hutan yang mendekati sungai untuk minum.Persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesia.

b.4Crocodylus siamensis (Buaya Air Tawar)

Dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan sisik post occipital-nya yang berjumlah 2-4 buah. Moncongnya tidak berlunas tetapi terdapat lunas yang jelas di antara kedua matanya.. Panjang moncongnya satu setengah sampai satu tiga perempat kali lebarnya. Umumnya memiliki 3-4 buah sisik belakang kepala. Tubuhnya kecil dan hanya dapat mencapai panjang sekitar satu meter, berwarna hijau tua kecoklatan dan anakan berwarna lebih muda dengan bercak- bercak pada punggung dan ekor. Belang hitam pada ekor umumnya tidak utuh. Buaya Air Tawar betina bertelur pada awal musim penghujan.

Buaya ini hidup pada pedalaman dengan air yang tawar, sungai atau rawa-rawa. Makanan utamanya adalah ikan. Jenis ini juga dikenal sebagai buaya

Buaya muara

Buaya air tawar

b.5 Tomistoma Schlegelii ( Buaya Senyulong)

Buaya ini dapat dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan moncongnya yang sangat sempit dengan ukuran tubuh yang mencapai 5,6m. Jari kakinya memiliki selaput, dan sisi kakinya berlunas.Matanya memiliki iris yang tegak.Betinanya bertelur pada awal musim penghujan.Telurnya diletakkan dalam tanah dan ditimbun dengan sampah tetumbuhan.

Gambar: Buaya Senyulong

Habitat yang menjadi favorit buaya ini adalah lubuk-lubuk yang relatif dalam, rawa-rawa, hingga ke pedalaman.Makanan utama adalah ikan, udang dan juga monyet. Persebaran buaya ini meliputi Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

c)    Famili Gavialidae

Famili Gavialidae memiliki bentuk moncong yang memanjang dan pada saat moncong tersebut menangkup, kedua deret gigi yaitu yang berada di rahang atas dan rahang bawah terlihat berseling. Ujung moncongnya melebar dan bersegi 8.sekilas bentuknya mirip dengan Tomistoma schlegelii.

Klasifikasi Gavialis gangeticus(Hickman et al, 2001)

Kingdom : Animalia

Phyllum   : Chordata

Class        : Reptilia

Ordo        : Crocodilia

Superfamili: Gavialoidea

Famili       : Gavialidae

Genus      : Gavialis

Spesies     : G. gangeticus

Sistem Pernapasan Reptilia

A.    SISTEM PERNAPASAN

Secara umum reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Tetapi pada beberapa reptilia, pengambilan oksigen dibantu oleh lapisan kulit disekitar kloaka. Pada reptilia umumnya udara luar masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus, dan akhirnya ke paru-paru.Sistem pernafasan pada reptilia lebih maju dari Amphibi.

Gambar: sistem pernapasan pada reptil

Paru-paru Reptil berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk.Paru paru Reptil hanya terdiri dari beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas.Paru paru kadal, kura-kura, dan buaya lebih kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti spon.Paru-paru pada beberapa jenis kadal, misalnya bunglon Afrika, mempunyai pundi-pundi hawa atau kantung udara cadangan sehingga memungkinkan hewan tersebut melayang di udara.Reptilia bernapas menggunakan paru-paru.Gas O2 dalam udara masuk melalui lubang hidung => rongga mulut => anak tekak => trakea yang panjang => bronkiolus dalam paru-paru.Dari paru-paru, O2 diangkut darah menuju seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung untuk dikeluarkan melalui paru-paru => bronkiolus => trakea yang panjang => anak tekak => rongga mulut => lubang hidung. Pada Reptilia yang hidup di air, lubang hidung dapat ditutup ketika menyelam.

B.     SISTEM PENCERNAAN

Sistem pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Pada umumnya reptile adalah karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati.

Rongga Mulut. Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah.Pada masing-masing rahang terdapat gigi-gigi yang berbentuk kerucut.Gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung kea rah rongga mulut. Dan khusus pada ular berbisa akan tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada rongga mulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian.Pada umumnya retil tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai penangkap mangsa.

Pada rongga mulut terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua.Pada reptilian pemakan insekta memiliki lidah yang dapat dijulurkan, sedangkan pada buaya dan kura-kura lidahnya relative kecil dan tidak dapat dijulurkan.Lidah ular berbentuk pembuluh yang terbungkus oleh selaput dan terletak di bagian rahang bawah. Memiliki kelenjar mukoid yang sekretnya berfungsi agar rongga mulut tetap basah dan dapat dengan mudah menelan mangsanya.Pada ular Kelenjar labia bermodifikasi menjadi kelenjar poison yang bermuara di kantung yang terletak di daerah gigi taring dan dikeluarkan melalui gigi tersebut.

1)      Kerongkongan (esophagus) merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan.

2)      Lambung (ventrikulus) merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus. Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian fundus pylorus makanan dicerna secara mekanik dan kimia.

3)      Intestinum terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

4)      Kelenjar pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang dihasilkan oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut vesica fellea. Hati tediri dari dua lobus yaitu sinister dan dexter yang berwarna coklat kemerahan. Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak diantara lambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.

mulut

has

usus

kloaka

lambung

kerongkongan

Gambar: Alat pencernaan reptil

C.    SISTEM EKSKRESI

Alat ekskresi pada Reptil berupa sepasang ginjal metanefros, kulit, dan paru-paru. Metanefros berfungsi setelah pronefros dan mesonefros yang merupakan alat ekskresi utama saat stadium embrio menghilang. Ginjal dihubungkan oleh ureter ke vesika urinaria yang bermuara langsung ke kloaka. Bentuk ureter menyempit di bagian posterior, ukurannya kecil, dan permukaannya beruang-ruang. Selain ginjal, reptile memiliki kelenjar kulit yang menghasilkan asam urat tertentu yang berguna untuk mengusir musuh.Pada jenis kura-kura tertentu terdapat sepasang vesika urinaria tambahan yang juga bermuara langsung ke kloaka dan berfungsi sebagai organ respirasi.

Pada kura-kura betina, alat respirasinya juga berperan membasahi tanah yang dipersiapkan untuk pembuatan sarang sehingga menjadikan tanah lebih lunak dan mudah digali.Hasil ekskresi reptile adalah asam urat. Dibandingkan Amfibi, Reptil hanya menggunakan sedikit air untuk membilas sampah nitrogen dari darah karena sebagian sisa metabolisme diekskresikan sebagai asam urat yang tidak beracun dalam bentuk pasta berwarna putih. Sisa air direabsorpsi oleh bagian tabung ginjal.Pada beberapa anggota Reptil, seperti buaya dan kura-kura air, selain mengekskresikan asam urat juga mengekskresikan amonia.Khusus pada kura-kura laut terjadi ekskresi garam dari sepasang kelenjar garam di kepala yang bermuara di sudut mata, sehingga sering terlihat seperti mengeluarkan air mata.Anggota lainnya, seperti ular, crocodilian, dan alligator tidak mempunyai vesika urinaria sehingga asam urat keluar bersama feses.

Gambar :Sistem ekskresi pada Reptilia, menggunakan tipe ginjal metanefros (http://budisma.web.id/).

D.    SISTEM SIRKULASI

Sistem circulatoria pada reptilia dibagai menjadi tiga bagian utama:

1)      Jantung (Cor)

2)      Pembuluh darah (Vascularis)

3)      Darah

Cor (Jantung) :

1)      Jantung kadal posisisnya dibagaian median cranio ventral thorax (rongga dada di depan tengah-tengah bawah)

2)      Antara ventrikel dextrer dan ventrikel sinaiter dipisahkan oleh sekat yaitu septum septum ventrikularum tetapi sekat belum menutup secara sempurna

3)      Pada crocodillia (buaya nampak lebih sempurna tetapi masih ada lubang kecil yang disebut Foramen Fanizzae

4)      Antara autrium dan vnetrikel terdapat septum autrioventricularis yang dilengkapi klep (valvula)

5)      Pada kadal masih ada sinus venostra terletak di dorsal dari autrium dextar, fungsinya menerima darah dari venacava superior anterior lalu memasukkan darah melalui aparera sino atrikularis

6)      Pada foramen panizzae ada tiga pembuluh darah utama yaitu :

a)      Dua berasal dari ventriole dexter

  • Arcus aorta sinister
  • Arteri pulmo ovalis

b)      Berasal dari sinister

  • Arcus aorta dexter

c)      Fungsi cor Crocodilla (Foramen Panizzae) adalah :

  • Memungkinkan pemberian oksigen ke area pencernaan
  • Untuk menyeimbangkan tekanan dalam cor pada waktu binatang berenag

d)     Sebelum berenang atau menyelam, menarik nafas sedalam-dalamnya sehingga pulmo penuh dengan oksigen, oksigen terjepit darah tidak mengalir sehingga autrium sisnister menjadi kosong.

Darah dari vena masuk ke dalam cor melalui 1) sinus venosus, 2) auriculum dextra, 3) ventriculum dextra, 4) arteri pulmonalis dari paru-paru darah kembali masuk, 6) auriculum sinestra dan terus ke ventriculum sinestra. Dari sini akan melalui sepasang archus aorticus  yang selanjutnya ke arah dorsal mengelilingi oesephagus dari dasar archus aorticus dexter muncul dua arteri carotis (arteri carotis comunis dexter dan sisnistra) yang menuju leher dan kepala, dan arteri subclavia menuju ke masing-masing extermitas anterior.

Dua archus aorticus menghubungkan diri menjadi satu disebelah dorsal menjadi aorta dorsalis yang akan memberikan darah kepada alat-alat pada rongga tubuh, ke ekxtremitas posterior dan ekor. Darah vena dikumpulkan 1) oleh vena canva posterior yang menampung darah dari kepala dan kedua extremitas anterior, 2) oleh sebuah vena cava posterior yang menampung darah dari organun reproduction dan ren, 3) oleh vena porta hepatica menampung darah dari dalam tractus digestiva yang memecah menjadi kapiler-kapiler di dalam hepar dan dikumpulkan oleh vena hepatica yang pendek, dan 4)  Vena epigratris pada masing-masing sisi dalam rongga abdominalis menampung darah dari ekstremitas posterior, ekor, dan tubuh. Dari kedua vena cava itu akan masuk ke sinus venosus.

Tiga Pola Sistem Sirkulasi  Pada Reptil

Sistem peredaran darah pada reptil tidak bisa disamaratakan dalam satu model.Ini tidak begitu mengherankan mengingat keragaman morfologi, fisiologi dan perilaku yang ditemukan di dalam superkelas ini. Kita dapat membagi model jantung reptile ke dalam tiga pola; pola Squamata, pola Varanid, dan pola Crocodilian.

1.      Pola Squamata

Pola ini ditandai dengan tiga ruang jantung (2 atria dan 1 ventrikel jantung).Atrium kanan menerima darah miskin oksigen lalu diteruskan ke cavum venosum ventrikel.Atrium kiri menerima darah kaya oksigen dari paru-paru lalu diteruskan ke cavum arteriosum. Kontraksi ventricular pada pola ini adalah tunggal, yang mana akan berakibat pada tercampurnya darah miskin oksigen dan darah kaya oksigen.

2.      Pola Varanid

Kelompok kadal-kadalan/Varanida biasanya memiliki tingkat metabolism yang lebih tinggi dari reptile lainnya dan memilliki sedikit perbedaan struktur jantung.Pola ini memiliki karakteristik berjantung tiga ruang tetapi cavum venosum-nya lebih kecil dari pada cavum venosum pada pola Squamata.Selain itu peredaran darahnya ganda.Perbedaan ini mengurangi resiko pencampuran dari darah kaya oksigen dan darah miskin oksigen. Namun pencampuran masih dapat terjadi dalam beberapa keadaan

3.      Pola Crocodilia

Pola ini merupakan karakteristik dari Crocodilian.Jantungnya terdiri dari empat ruangan (dua atria dan dua ventrikel), tetapi terdapat saluran sempit, yaitu foramen Panizza, yang menghubungkan dua arteri utama (arteri kanan dan arteri kiri).Dua system arteri ini muncul dari ruang ventrikel yang berbeda (arteri kiri dari ventrikel kanan, dan arteri kanan dari ventrikel kiri).Ini memberikan kesempatan bagi paru-paru untuk melakukan anoxia (mengurangi suplai oksigen pada jaringan tubuh) pada kondasi tertentu, misalnya ketika menyelam dalam air.Menurut para penyelam sukarelawan, buaya dapat diam dalam air selama 10-15 menit.Ketika buaya sedang bersembunyi dari mangsanya, kemampuan menyelam ini bisa lebih lama lagi, sekitar 30 menit atau lebih. Eksperimen menunjukkan bahwa kebanyakan buaya sebenarnya dapat bertahan di bawah air hingga 2 jam jika dalam keadaan tertekan.

Darah miskin oksigen dari tubuh di terima oleh atrium kanan dan di transport ke ventrikel kanan. Dari sana darah dipompa ke paru-paru dan kembali ke atrium kiri. Darah kaya akan oksigen ini kemudia di pompa oleh ventrikel kiri menuju seluruh tubuh.

Walaupun system arteri kiri berasal dari ventrikel kanan, darah ini tersuplai oleh oksigen dari darah kaya oksigen di ventrikel kiri melalui foramen panizza.Karena tekanan dalam system sirkulasi lebih tinggi dari sirkulasi paru-paru.Katup pada basal system arteri kiri tetap tertutup untuk menjaga darah tetap terpisah.

Ketika buaya menyelam, tekanan udara terbentuk dalam paru-paru, menurunkan aliran pada system paru-paru. Ini menurunkan jumlah darah yang mengalir ke paru-paru dan output dari ventrikel kanan langsung masuk ke system arteri kiri. Dengan cara ini, buaya mampu mencegah aliran darah ke paru-paru jika tidak diperlukan.

E.     SISTEM REPRODUKSI

Jantan Betina
1)      Memiliki alat kelamin khusus : hemipenis

2)      Sepasang testis

3)      Memiliki epididymis

4)      Memiliki vas deferens

1)      Memiliki sepasang ovarium

2)      Memiliki saluran telur (oviduk)

3)      Berakhir pada saluran kloaka

 

Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur.Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium.Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka.Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet.Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.

Gambar: Alat Reproduksi pada reptil (a) alat reproduksi reptil jantan. (b) alat reproduksi betina.(http://fembrisma.wordpress.com/ science/sistem-reproduksi/sistem-reproduksi-hewan)

Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya.Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah.

Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.

F.     SISTEM INDERA

Reptil memiliki alat indera dengan kepekaan yang berbeda- beda, bergantung pada spesiesnya. Beberapa reptil juga memiliki indera khas yang tidak dimiliki oleh reptil lainnya. Namun, secara umum indera yang dimiliki oleh reptil adalah indera penglihatan, pendengaran dan kemoreseptor khusus.

a)      indera penglihatan

Secara umum, reptil memiliki struktur mata yang sama dengan vertebrata lainnya. Ada yang memiliki kelopak mata, ada pula yang tidak. Akomodasi pada semua reptil kecuali ular diatur oleh lensa yang dikelilingi dengan cincin otot sehingga lensa dapat memipih danmembesar. Sementara pada ular, untuk akomodasi lensa mata dapat diarahkan maju- mundur.

Mata pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaput transparan.Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia.Sensor yang ditangkap adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya dan panas.Sebagian besar ular juga memiliki mata median yang berada di atas kepalanya.Mata median merupakan hasil envaginasi dari dienchephalon.Mata median ini tidak membentuk gambaran retina.Fungsinya adalah untuk mengamati durasi dari fotoperiodisme lingkungan dan memasukkan pengaruhnya terhadap ritme biologis. Mata median ini diduga juga berguna untuk menakar kadar radiasi sinar matahari yang memapar tubuh ular. Pada bunglon, mata lateralnya dapat berputar 3600. Selain itu, kedua mata lateralnya dapat bergerak ke arah yang berbeda.Sehingga, hewan ini dapat melihat ke dua arah sekaligus.

b)     Indera Pendengaran

Reptil tidak memiliki daun telinga. Pada kadal, gendang telinganya nampak jelas terlihat dari luar, berada tepat di belakang rahang.Buaya memiliki gendang telinga yang berada di dalam lubang telinga, tepatnya berada di ujung saluran telinga. Gendang telinga ini berfungsi untuk menggetarkan tulang- tulang pendengaran.Akan tetapi, hampir semua jenis ular tidak memiliki gendang telinga. Sehingga, sinyal- sinyal getaran diterima dari lingkungan melalui rahang bawah.

c)      kemoreseptor khusus

1)      Organ Vomeronasal

Organ ini fungsinya ekuiivalen dengan indera pembau pada manusia.Karena hidung ular hanya memiliki epitel respirasi, maka fungsi penciumannya digantikan oleh organ ini.Organ vomeronasal atau organ Jacobson berhubungan dengan bulbus olfaktorius dan berfungsi sebagai pendeteksi kimia adanya mangsa maupun pemangsa.Lidah berfungsi sebagai poembawa sinyal kimia berupa gas dari lingkungan ke dalam organ ini.

Gambar: Organ Jacobson pada ular (www.rcreptiles.com)

2)      Organ perasa

Lidah pada reptil memiliki sedikit kuncup kecap. Sehingga, ia bisa merasakan mangsanya.

3)      Pit Organ

Pit organ merupakan detektor panas pada ular. pit organ ini berupa lubang- lubang di depan wajah ular yang di dalamnya terdapat membran thermoreseptor. Pada gambar berikut, organ pit ditunjukkan dengan panah warna merah.Sementara, panah berwarna hitam menunjukkan lubang hidungnya.

G.    SISTEM RANGKA

Reptil memiliki tengkorak yang penulangannya lebih banyak daripada amfibi dan terdapat banyak variasi di bagian temporal. Tengkorak reptil yang memiliki lubang spesifik dibagian temporal disebut tipe tengkorak anapsid. Tipe tengkorak jenis ini ditemukan pada kura-kura. Sedangkan tipe tengkorak eurapsid ditemukan pada Plesiosaurus dan kerabatnya, mempunyai sebuah penyambung supratemporal yang berkembang di kedua sisi tengkorak. Reptile di era Permian sampai Jurassic mempunyai tengkorak seperti mamal, ada sepasang lubang infratemporal disebut tipe diapsid, yang ditandai dengan lubang supra dan infratemporal. Ciri ini juga menjadi cirri reptile sesudah era cheloina ( Testudinata).

Atap ruang otak reptile adalah melengkung agak datar, seperti pada kelas Amphibia. Sebuah foramen parietal kea rah  pineal, atau mata ketiga, ditemukan pada Tuatara (sphenodon)I  dan beberapa jenis kadal, tetapi tidak ditemukan pada kebanyakan reptil. Selain ular semua reptile memiliki tulang septum orbitalis. Perkembangan awal dari palatum sekunder, dari nares internal ke bagian belakang ringga mulut melintaas sepanjang nasal tersebut, ditemukan pada kura-kura dan sebangsanya. Palatum sekunder berkembang baik pada buaya.Ada sebuah kondilus oksipital. Tulang quadrat pada kura-kura, buaya maupun tuatara, menyatu dengan baik.Rahang atas dan bawah pada ular dan kadal dapat bergerak dengan baik, karena adanya engsel yang dilengkapi dengan ligamenutum. Ligamentum adalah jaringan ikat yyang berfungsi untuk menghubungkan tulang satu dengan tulang lainnya. Ligamentum ini merupakan penyambung kedua rahang, yakni rahang atas dan rahang bawah, sedangkan rahang bawah kanan dan rahang bawah kiri juga dihubungkan oleh ligamentum elastic oleh karena itu rahang ular mampu bergerak kuadratik dan memungkinkan menelan mangsa yang ralatif besar dari ukuran kepalanya. Kemampuan ular untuk menelan mangsa kebih besar ini juga dibantu oleh karena tidak adanya stermum. Gigi pada kura-kura tidak ada tetapi digantikan oleh lembaran bertanduk.Gigi reptile terdapat pada bagian premaksila dan maksila.Gigi tersusun atas bagian palatin, vomer dan pterigoid.

Kolumna vertebralis reptile kecuali pada ular dan kadal, berada pada bagian servik, thorak, lumbal, sacrum dan kauda.Kondilus oksipital dihubungkan dengan vertebra servik pertama (atlas). Tulang leher kedua (aksis) menahan bagian anteriornya yang dikenal sebagai prosesus odontoid  yang diyakini sebagai pusat dari atlas tersebut. Vertebra thorakis mendukung tulang iga dan bertemu sternum pada bagian ventral (kecuali pada reptile tak bertungkai dan kura-kura).Antara vertebra thorak dan kedua vertebra sacrum adalah bagian lumbal yang sangat fleksibel geraknya.Jumlah vertebra bagian ekor pada reptile sangat bervariasi. Ruas tulang belakang kura-kura, selain servik dan kauda, menyatu pada lempeng karapaks. Sebagian besar reptile mempunyai cetrum tulang belakang yang disebut procoelous  ( pro = depan, coelous = cekung) dengan tipe persendian berbentuk bola dan socket, ujung posterior membulat dan ujung anteriornya cekung. Bentuk sambungan ini sangat bervariasi tergantung dari tipe gerakan reptile bersangkutan, sehingga dapat ditemukan berbagai bentuk permukaan cetrum vertebra, antara lain ;procoelous, opisthocoelous, heterocoelous, amphycoelous maupun acoelous.

Ular dan reptile yang tidak bertungkai tidak memiliki alat gerak, beberapa reptile lain terdapat sisa-sisa tungkai yang tersembunyi tampak sebagai taji. Tungkai kura-kura laut mengalami modifikasi menjadi sirip untuk berenang, namun kura-kura darat memiliki tungkai untuk menyangga berat tubuhnya.

Kadal, umumnya memiliki 5 jari pada masing-masing kaki dan beberapa spesies mempunyai kemampuan untuk berlari sangat cepat, tetapi ada kadal yang tidak bertungkai sehinga menyerupai ular.Jari kaki pada beberapa reptile sejenis buaya mungkin terpisah atau menjadi satu oleh anyaman selaput sebagai adaptasi untuk kehidupan air.

Reptilia berasal dari kata reptum

A.    PENGERTIAN REPTIL

Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata.Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan peru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan.Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit.

Hewan melata yaitu berjalan dengan perut menempel pada permukaan tanah atau tembok. Karena kaki orientasi lateral (sisi) berada dikiri kanan tubuh. Kajian mengenai hewan amfibi dan reptilian disebut herpetology  yang berarti hewan melata. Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar.Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru.

B.     MASA REPTILIA

Masa Reptilia dimana hewan reptlilia ini jauh lebih menyebar, lebih banyak jumlahnya, dan lebih beraneka ragam selama zaman Mesozoikum dibandingkan dengan saat ini.Asal mula dan radisai evolusioner awal reptilian. Fosil reptilian tertua ditemukan di batuan yang berasal dari akhir masa Karboniferus;berumur sekitar 300 juta tahun. Leluhurnya adalah salah satu di antara amfibi dimasa Devon.Dalam dua gelombang besar radiasi adaptif, reptilian menjadi vertebrata darat yang dominan dalam suatu dinasti yang bertahan selama lebih dari 200 juta tahun. (Campbell 2003)

Penyebaran reptilia pertama kali terjadi pada masa Permium, yaitu masa terakhir Paleozoikum, dan menjadi dua cabang evolusi utama.

  1. Sinapsida. Cabang tersebut meliputi beraneka ragam reptilian yang mirip mamalia yang disebut tetrapsida, termasuk organisme yang kemungkinan merupakan leluhur mamalia.
  2. Sauropsida. Cabang tersebut menghasilkan semua aminota modern kecuali mamalia. Sauropsida terbagi menjadi dua subcabang relative awal dalam sejarahnya:
  3. Anapsida. Kura-kura adalah satu-satunya jenis yang selamat dari kelompok reptilian.
  4. Diapsida. Kadal, ular, dan buaya adalah diapsida yang masih hidup saat ini yang diklasifikasikan sebagai reptilian. Dinosaurus dan beberapa kelompok reptilia lain yang sudah punah juga merupakan anggota diapsida. Analissi kladistik memberikan bukti yang kuat bahwa burung adalah kerabat terdekat yang masih hidup bagi dinosaurus yang sudah punah tersebut. (Campbell 2003)